Senin, 18 April 2011

Kelezatan Hidangan Serba-Tuna

IKAN tuna atau tongkol cukup populer di Indonesia. Dagingnya yang padat berisi sangat cocok diolah menjadi aneka masakan yang lezat menggoda.

Bagi Anda yang sedang berusaha mengurangi berat badan, tuna juga merupakan pilihan tepat karena relatif rendah kalori dan kandungan gizinya tinggi. Steak tuna misalnya, mengandung sekitar 40 persen kalori dan 5 persen lemak per 100 gram daging. Tidak seperti jenis ikan lainnya yang memiliki daging berwarna putih, daging tuna berwarna pink hingga merah tua (tergantung jenisnya).

Daging tuna lebih serbaguna dibandingkan ikan berdaging putih seperti cod atau ikan lidah. Daging tuna umumnya selalu padat dan bisa disajikan dalam keadaan mentah, digoreng, dipanggang atau diselipkan dalam roti dan muffin. Makan tuna merupakan pilihan tepat jika dimasak dengan benar pula.

Seperti halnya daging sapi, tuna juga harus dimasak mulai ukuran tipis hingga medium. Jika dibuat steak, ketebalannya jangan kurang dari 2,5 cm karena umumnya daging ikan lebih cepat matang dibanding daging sapi.

Sebelum dipanggang, lumuri dagingnya dengan minyak dan panggang dalam panggangan yang telah dipanaskan sekitar dua menit (untuk yang tipis) pada kedua sisinya. Ingatlah untuk tidak memasak tuna terlalu lama karena bisa menyebabkan dagingnya menjadi kering dan tidak menarik.

Jika Anda hendak membeli tuna, carilah yang dagingnya berwarna merah cerah tanpa kecokelatan atau bintik-bintik yang kering. Dagingnya juga harus tampak padat dan tidak pecah-pecah, apalagi hancur. Daging tuna yang padat berisi tersebut dikarenakan jaringan ototnya mengandung banyak molekul pengikat oksigen yang disebut myoglobin.

Sedangkan pada ikan lainnya hanya sedikit. Tuna dapat berenang hingga kecepatan 77 km/jam dan dikategorikan hewan berdarah panas. Ikan tuna berukuran besar bisa ditemukan di air bersuhu sedang di seluruh dunia dan tersedia sepanjang tahun.

Pada musim panas, mereka berenang dari Teluk Meksiko ke Atlantik Tengah dan pesisir New England. Sementara tuna dari perairan tengah dan selatan Amerika berenang ke bagian selatan California. Beberapa spesies yang besar seperti bluefin tuna bisa menaikkan temperatur darah mereka lebih tinggi daripada temperatur air tempat berenangnya melalui gerakan otot-ototnya.

Ini memungkinkan mereka untuk hidup di air yang lebih dingin dan bertahan di berbagai lingkungan air. Tuna sirip biru (blue fin) merupakan yang termahal dengan kandungan lemak yang tinggi, terutama di bagian perutnya. Jenis tuna yang kecil dan blue fin tuna yang panjangnya 1 meter lebih dikenal di Asia Timur dibanding jenis yang lebih besar. Di Jepang disebut tero, dan merupakan keberuntungan bila dapat mencicipinya.

Orang-orang Jepang suka memakannya dalam keadaan mentah dengan sedikit kecap yang dicampur wasabi dan asam dengan sedikit irisan jahe. Sayangnya spesies ini masih jarang. Di California, blue fin tuna dipelihara dan diberi makan ikan sarden atau berbagai ikan kecil lainnya secara teratur. Harganya mahal dan hanya tersedia di beberapa restoran mewah. Tuna sirip kuning (yellow fin tuna) merupakan jenis ikan tuna yang rasanya lembut.

Dagingnya berwarna merah dengan tekstur yang jelas, tapi kandungan lemaknya lebih sedikit dibandingkan blue fin tuna dan big eye tuna. Jenis tuna ini tersedia melimpah sepanjang tahun dengan harga yang bervariasi. Tuna albacore biasanya paling banyak dikalengkan, kendati ada juga beberapa chef yang menggunakannya dalam keadaan segar.

Dagingnya yang putih terasa lebih berminyak dengan rasa yang lebih kuat dibandingkan jenis tuna lainnya. Tidak seperti daging sapi yang penomorannya dilakukan di Kanada dan Amerika, penomoran untuk tuna kalengan menggunakan standar Jepang.Tuna kaleng No 1 menunjukkan kandungan lemak yang tinggi dengan kemurnian dan warna yang baik. Nomor 2 juga sama saja, tapi kandungan lemaknya lebih rendah.

Adapun Nomor 3 menunjukkan daging tuna berwarna cokelat dengan rasa yang agak pahit. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai kandungan merkuri dalam tuna. Ini penting mengingat polusi logam bisa berbahaya untuk perkembangan otak.

Wanita hamil, ibu menyusui, wanita yang ingin hamil dan anakanak seharusnya mengurangi asupan merkuri. FDA dan EPA menyarankan agar kelompok tersebut tidak mengonsumsi berbagai jenis seafood (termasuk tuna) lebih dari 12 ons per minggu.
Rata-rata albacore kalengan mengandung merkuri 0,35 ppm, tapi ada pula yang lebih ringan (light tuna), yaitu 0,12 ppm. Menurut ahli racun (toxicologist) dari Washington State Department of Health, David McBride, tuna kalengan merupakan salah satu ikan bersirip yang paling banyak dikonsumsi di Amerika.

Oleh karena itu menjadi sumber merkuri bagi sebagian besar orang. Kandungan merkuri yang terlalu tinggi dalam darah ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir dengan berbagai kelainan, termasuk keterbelakangan mental dan cerebral palsy. (Koran SI/Koran SI/nsa)

Sumber :
http://www.okefood.com/read/2009/06/01/299/225015/299/kelezatan-hidangan-serba-tuna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar